Cerpen blog – dengarkan ayah

Cerpen blog – dengarkan ayah

kompleks pertokoan tempat ayah memberitahu wika nurviana agar blogwalking tapi wika tak mau mendengarkan

ayah memberitahu wika nurviana agar blogwalking tapi wika tak mau mendengarkan

Sudah beberapa jam Wika Nurviana duduk di depan laptop. Cewek itu mengetikkan tulisan-tulisan dari buku tulisnya untuk dikirim ke blognya. Semenjak teman-teman memberikan sambutan dan komentar yang meriah beberapa hari yang lalu Wika makin bersemangat ngeblog sampai hari ini. Cewek 14 tahun itu terus bersemangat dan terhanyut dalam kesenangan menuangkan imajinasinya dalam blog. Tapi kesenangan itu terganggu oleh suara panggilan dari luar.

“ Wika, sini nak!” panggil ayah.

Wika yang sedang semangat-semangat mengetik malas diganggu,” sebentar, Yah! Lagi sibuk nih.”

Wika melanjutkan mengetiknya.

“ Wika…!” panggil ayahnya lagi lebih keras.

Wika berusaha mengabaikan panggilan ayahnya. Ia benar-benar ingin konsentrasi pada tulisannya. Cerita yang ditengah diketiknya sedang menuju klimaks. Tapi perasaan tak enak menyerangnya. Dalam al-qur’an dikatakan agar anak tidak membantah orang tua walau hanya berkata,”ah” apalagi berkata kasar. Semakin lama dia mengabaikan semakin kuat perasaan itu.

“ Wika! Kalau dipanggil cepet datang to!” seru ayahnya.

“ Ugh, kenapa sih ayah manggil sekarang. Padahal lagi seru-serunya. Bikin BT aja.” Keluh Wika.

“ Kak, dipanggil ayah ilo.” Kata adik Wika yang kelas 4 SD.

“ Iya iya.” Wika menyimpan tulisannya lalu keluar menemui ayahnya di teras depan.

Ayah sudah berpakaian rapi dengan kemeja biru dan celana hitam. Ayah bersandar pada dinding menghadap ke jalan di arah selatan.

“ Kamu kenapa sih dipanggil lama amat?” tanya ayahnya.

“ Lagi seru-serunya ngeblog, yah.” Jawab Wika.

“ Kita mau ngomongin blogmu. Bawa laptopmu! Kita keluar.” Perintah ayah.

“ Kita mau apa sih?” tanya Wika.

“ Udah! Ikut aja! Bawel!” omel ayahnya.

Wika dengan kesal kembali masuk ke dalam rumah. Ia mematikan laptop lalu memasukkannya ke dalam tas hitam di laci sebelah kanan meja laptop. Ia masukkan buku tulisnya juga ke dalam tas.

“ Udah selesai? Pinjam ya?” tanya Jefri, kakak Wika.

“ Disuruh Ayah bawa.” Jawab Wika ketus.

“Oh, dipake Ayah.”

Wika keluar membawa tas berisi laptop itu keluar.

“ Sini!” Ayah meminta tas hitam itu.

Wika menyerahkannya lalu Wika masuk garasi di sebelah barat rumah untuk mengambil helm biru kesukaannya, tapi langkahnya terhenti ketika melihat ayah langsung keluar dari halaman rumah jalan kaki menuju trotoar. Wika segera menyusul.

“ Ayah, tunggu!” panggil Wika.

Ayah berjalan melambat sampai Wika sejajar dengannya. Ayah memakai topi hitam. Wika terhenti melihat ayahnya.  Ia tersadar ia belum pake makeup apa-apa. Ia hanya memakai kaos sian lengan pendek dan legging biru donker. Ia belum memakai lotion, lipgloss, bedak atau yang lain. Matahari dari timur tinggi menyengat mukanya.

“ Ayah, Aku belum apa-apa nih. Kita pulang dulu yuk?” pinta Wika.

“ Nggak perlu. Kamu nggak perlu bergantung sama kosmetik-kosmetik itu.” Tolak ayah.

“ Tapi malu nih, yah kalo diliatin orang. Entar dikirain belum mandi lagi.”

“ La kamu udah mandi belum?” tanya ayah balik.

“ Udah la yauw! Dari subuh tadi!” Tandas Wika marah.

Mereka menyeberang perempatan lalu menyusuri pertokoan yang berjajar. Sekarang banyak ruko baru yang dibangun di kota patria sehingga membuat semakin modern dan mirip jakarta. Ruko-ruko itu beraneka warna seperti hijau, ungu, oranye, biru, kuning dan lain-lain. Biasanya Wika suka melihat-lihat ruko tapi sekarang malas. Pinginnya Cuma satu, cepat pulang dan selesaiin tulisan.

“ Sebenarnya kita mau ke mana sih, yah?” tanya Wika.

“ Itu di depan ada kafe. Kita mau ke sana.” Jawab ayah.

“ Buat apa?”

“ Buat ngomongin blog kamu tuh. Ada yang mau ayah sampein.” Jawab ayah.

Wika mau saja dengerin, tapi sekarang lagi nggak pingin apa-apa selain nulis dulu. Nanti setelah nulis deh baru siap. Masalahnya keburu deadline. Besok teman-teman bakalan nanyain kalo belum selesai.

“ Besok aja yah ya? Tulisanku keburu deadline nih.” Pinta Wika.

“ Nggak boleh! Laptopmu ayah bawa kalo kamu pulang.” Ancam ayah.

“ Yaah…”

Mereka memasuki salah satu kafe berwarna coklat brownis di tengah blok. Kafe itu berwarna coklat gelap dan coklat terang. Di bawahnya dipasang dinding kaca termasuk pintu masuk. Di atas pintu masuk ada papan nama “cookies factory”. Ayah masuk duluan. Wika mengikuti di belakang.

Mereka duduk di kursi sebelah timur pintu kaca. Kursi itu bulat berwarna hitam ditopang besi merah dan bersandaran besi merah pula. Wika membelokkan duduknya agar dapat melihat pemandangan keluar. Lebih baik mengusir kebosanan dan kegelisahan dengan cuci mata keluar saja. Wika bertopang dagu menghadap jalan. Jemari kanannya menutupi bibirnya yang tipis.

“ Udah dong, Ka sebelnya!” Kata ayah. Tapi Wika tak peduli.

Ayah menaruh tas di meja lalu mengeluarkan laptop. Ayah menyalakan laptop. Sambil menunggu booting ayah mengeluarkan kertas kecil dan polpen dari sakunya. Ayah menulis tulisan singkat “blogwalking”. Wika terus menatap keluar.

Setelah boting selesai, ayah menancapkan USB modem smartfren di USB port. Lalu ayah membuka browser. Ayah membuka history browser google chrome. Ayah juga membuka halaman wordpress.com. ayah login dengan email dan password. Ketika halaman  dashboard terbuka ayah mengklik statistik dan readomatic di tab yang berbeda. Terlihat readomatic nol, artinya Wika tak pernah blogwalking ke blog wordpress lain.

“ Ayah mau evaluasi blog kamu, Ka. Ini demi kebaikan kamu. Kamu kemarin tanya gimana caranya biar ada komentar di blog. Ayah kasih tahu caranya dengan nulis dan promosi. Kamu sudah ayah jarin promosi lewat facebook, twitter dan sms. Sekarang ayah mau ngasih tahu blogwalking.”

Wika yang tak semangat tetap memandang keluar. Bukannya memperhatikan ayahnya dia malah mengeluarkan HP dan earphone dari saku leggingnya. Ia tancapkan kedua eraphone ke telinganya. Ia lalu menyetel lagu. Kepalanya mengangguk-angguk dan jari-jemarinya bergerak seakan-akan memencet tuts-tuts piano.

Ayah tak tahan lagi,” Wika! Kalau dikasih tahu ayah dengerin! Perhatiin ayah kalo ngomong! Matikan lagu itu!”

Wika menoleh pada ayahnya. Terlihat marah di mukanya. Ia menggigit bibirnya mau protes tapi tak jadi. Ia cabut earphone, pause lagu, lalu memasukkannya kembali ke saku.

“ Nulis itu memang penting, ka. Tapi yang lain juga penting. Ngeblog itu nggak Cuma nulis. Ada yang lain. Kamu harus perhatiin. Banyak blog yang isinya bagus tapi kalo tidak promosi nggak bakalan ada pengunjung dan komentar. Kamu mau seperti itu?”

Wika mau konsentrasi tapi tak bisa-bisa. Kesalnya karena diganggu, diajak keluar tanpa makeup – malu-maluin, ninggalin tugasnya. Membosankan.

“ Aku mau dengerin, yah? Tapi nanti bisa kan? Plis…” bisik Wika.

Ayah menerangkan blogwalking lebih banyak. Caranya seperti brwosing, tapi khusus blog. Ada tambahan seperti membaca konten, memberi komentar, cara mengisi kotak komentar yang efektif dan lain-lain. Sayangnya pikiran Wika tak lagi di situ. Wika lebih memikirkan membayangkan cerita buatannya. Cerita yang tengah ia buat yang sampai klimaks itu ada lanjutannya. Dia lebih suka membayangkan kelanjutannya. Sampai ia bengong dengan tatapan mata kosong.

“ Ka, Wika, kamu dengerin nggak?” tanya ayah menggerak-gerakkan tangannya naik turun di depan mata Wika.

Wika tersadar mengambil buku tulis di tas laptop lalu berdiri,” aku pulang saja!” ia langsung pergi.

“ Wika! Tunggu, Ka! Wika!” seru ayah tapi Wika sudah tak terlihat. Ayah keluar.

Ayah berteriak,” kalo kamu pulang kamu nggak boleh pake laptop lagi!”

Wika berlari ke rumah tanpa mempedulikan peringatan ayahnya. Ia menyeberangjalan. Angin kencang mengibarkan rambutnya yang panjang. Ia segera masuk rumah langsung ke kamar mengacuhkan Jefri, dua adik dan ibunya di ruang keluarga. Ia tutup pintu dan berbaring.

“ Wika, kamu kenapa?” tanya Jefri.

Ibu melihat Wika terheran-heran. Wanita berusia 45 tahun itu mendekati pintu mengetuk pintu kamar Wika.

“ Ka, kamu kenapa?” tanya Ibu.

Tak ada balasan. Ibu mengulang lagi,” Wika? Apa ada masalah? Ceritakan sama Ibu biar Ibu bantu kamu.”

Wika menoleh pada pintu bergumam,” Maaf, bu. Tapi Wika nggak pingin cerita dulu. Nanti aja deh.”

Wika berbaring tengkurap menenggelamkan mukanya ke bantal.

Sorenya Wika bangun tidur. Dia keluar dari kamar. Dia memandang ke meja tempat laptop tapi tak ada laptop di sana. Wika memandang ke ruang keluarga. Ibu sedang bermain dengan kedua adiknya, tapi tak ada ayah. Wika berjalan ke kamar Jefri di sebelah selatan kamarnya pas. Ia menemukan ayah sedang mengajari Jefri bahasa pemrograman pascal. Wika masuk mendekat.

“ Yah, pinjam laptop dong.” Pinta Wika.

Ayah dan jefri menoleh. Ayah membuang muka.

“ Yah, pinjam ya? Plis…”

“ Kamu nggak liat apa ayah lagi ngajarin kakakmu?” bentak ayah.

Wika terdiam. Ayah berbalik menatapnya dengan marah dan mencecar,” kamu ini! Kalau sudah nulis jadi lupa waktu. Terus dikasih tau nggak mau dengerin. Malah pergi ninggalin.”

“ Maaf, deh, yah. Habis ayah nggak mau nunggu  Wika selesai dulu sih. Aku kan lagi sibuk.”

“ Kamu ini dibilangin malah nyalah-nyalahin! Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh pake laptop lagi selama seminggu. Ayah kasih skors kamu .”

“ Apa? Jangan, yah? Nanti kalo tugas-tugas sama blog aku gimana?” Wika terperanjat.

“ Kerjakan di luar!”

Ayah menoleh pada jefri,” Jef, jangan penjemin ke Wika! Buat hukuman dia.”

“ Iya, yah.” Jefri patuh.

Ayah keluar dari kamar Jefri. Wika menahan tangan ayah memohon,” jangan yah. Ananti blogku nggak update.”

“ Biarin! Kamu diajarin ngeblog buat nulis bukan buat nggak dengerin ayah. Dipanggil nggak dateng-dateng. Di ajak keluar nggak mau. Diomongin malah main musik. Terus pulang ninggalin ayah.” Ayah mengibaskan tangan melepaskan tangan Wika. Ayah pergi keluar rumah

Wika memandang Jefri.  Dia masuk kamar Jefri memohon.

“ Kak, pinjemin ya? Sebentar aja. Nanti aku balikin.”

“ Sori, Wik. Ayah bilang nggak boleh. Aku Cuma minjem buat belajar pascal. Nanti aku balikin.” Jawab Jefri.

“ Aku pinjem setelah kamu pake deh. Sebelum kamu balikin. Nanti aku balikin. Boleh ya?”

Jefri menggelengkan kepala.

Wika tak kuasa menahan tangis. Dia berlari kepada ibunya dan mengadu,” Bu, aku nggak boleh ngeblog lagi. Gimana dong? Tolong bantuin Wika, ya Bu. Biar Wika bisa ngeblog lagi.”

Ibu mengelus rambut Wika tersenyum,” Sabar ya sayang? Ini keputusan ayah biar kamu nggak lupa waktu dan melupakan  ayah. Ayah menyayangimu, Wika. Jadi seharusnya kamu tidak mengabaikan ayah.”

“ Tapi Wika nggak bisa nggak ngeblog, Bu. 2 jam saja.”

“ Ini adalah pelajaran buat kamu biar sabar dan menghormati orangtua.

“ Tolong, Bu! Tolong mintain sama ayah.” Pinta Wika bersikeras.

“ Maaf, sayang. Yang bisa kita lakukan Cuma menunggu sampai seminggu. Nanti pasti semua kembali.” Pesan Ibu.

Sadar tak ada harapan, Wika kembali ke kamar. Dia mengusap air matanya yang tersisa di pipinya. Ibu tak berusaha mencegah. Saudara-saudaranya hanya bisa memandang dengan prihatin.

Keesokan harinya Wika berangkat sekolah dengan hati hampa. Tak ada cerita terbaru. Teman-teman pasti bertanya. Mereka sudah berlangganan dan menjadi follower blognya lewat email. Selama ini mereka mendapatkan cerita terbaru. Sekarang…

Wika masuk kelas dan memandang ke bangkunya. Silvia, Revina, Citra dan yang lain sudah duduk di sekitar kursinya.

“ Gimana , Ka? Aku tunggu-tunggu lo. Kok nggak ada cerita terbaru?” tanya Silvia.

“ Iya, ka. Aku tunggu-tunggu lo.” Revina dan citra menimpali.

“ Kamu kehabisan ide ya?” tanya Kevin.

Wika kehabisan kata-kata, tapi harus bicara. Ia menarik napas dalam-dalam baru membuka mulut.

“ Maaf, ya teman-teman? Seminggu ini aku nggak bisa nulis dulu.”

“ Kenapa?” tanya mereka.

Wika menceritakan kejadian kemarin. Teman-teman mendengarkan. Sebagian ikut prihatin dan memberi dukungan. Sebagian menyalahkan Wika dan mensukur-sukurkan Wika. Wika tak peduli lagi. Silvia yang terus membelanya.

“ Sabar, ya? Kita bakalan nungguin kamu.” Kata Silvia diikuti revina, Citra dan beberapa cowok.

“ Makasih.”

Teman-teman berangsur-angsur meninggalkan Wika. Mereka kembali ke bangku mereka masing-masing. Yang tersisa hanya Silvia dan Revina.

Wika menggeletakkan kepalanya di meja dengan dagu  menempel meja. Tangannya terulur maju lurus ke depan. Jari-jarinya mencakar-cakar meja dengan kukunya yang pendek. Ingin rasanya merobek waktu agar kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.

“ Kenapa sih harus begini?” teriaknya tanpa suara. Hanya gerakan mulut.

“ Yah, mau gimana lagi? Yang terjadi sudah terjadi. Tak bisa diubah lagi. Aku Cuma bisa menunggu.”

Silvia datang dan duduk di samping Wika.

“ Masuk. Pelajaran.” Kata Silvia.

“ Ya.” Wika menegakkan duduknya.

12 thoughts on “Cerpen blog – dengarkan ayah

  1. Pingback: cerpen matematika – rumus lahir di tengah ujian | WINTERWING

  2. Pingback: cerpen – temenin aku dong | WINTERWING

  3. Pingback: Promotor samaran | WINTERWING

  4. Pingback: cerpen blog – tukar link yuk | WINTERWING

  5. Pingback: cerpen blog – rahasia wika | WINTERWING

  6. Pingback: cerpen – malam minggu pertama tanpa cinta | WINTERWING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s