cerpen sosial – apa kata mereka

cerpen sosial – apa kata mereka

images (1)

galau sendiri di kamar mikirin kata-kata buat jawab apa kata mereka

galau sendiri di kamar

Revina duduk di ranjangnya yang berwarna hijau dan biru. Cewek 15 tahun itu memandangi foto Johan yang ia tempel di kalender dua minggu lalu. Revina memakai kaos ungu dan legging sewarna. Rambutnya terurai lurus tanpa riasan apapun. Ia duduk dengan paha merapat dan kaki melebar. Kedua tangannya ia letakkan di antara kedua pahanya.

“ Ternyata kamu gitu ya, Han?  Kamu lepasin aku demi aku. Kamu ternyata baik baik banget. Aku jadi sayang sama kamu biarpun kita nggak bisa jalan bareng lagi.”

Cewek kurus tinggi sedang itu berjalan menuju kalender lalu melepas mantan cowoknya yang mirip Justin Timberlake itu.

“ Sekarang kamu harus pergi. Kamu akan aku jadikan salah satu bintang yang nerangi hidupku. Aku nggak nyesel ketemu kamu walau sekarang kita harus pisah. Sekarang aku harus mencari bintang yang lain.”

Ia meraih foto dari klip yang menjepit foto dengan kalender. Ia buang foto itu ke tempat sampah di samping pintu. Setelah itu ia berjalan ke meja rias. Di sana tergeletak aksesoris-aksesoris yang dia pakai selama mengejar Johan. Ada anting-anting, kalung, lipgloss dan gelang. Di bawah meja ada sepasang sepatu warna hitam, biru, oranye. Di samping meja rias ada gantungan baju. Di sana tergantung jaket baseball warna merah dan biru. Di sampingnya ada topi. Revina mengambili mereka semua.

“ Kalian udah nemenin aku selama ini. Kalian  udah ngerubah hidupku, tapi sekarang kalian harus pergi. Aku harus kembali ke diriku yang dulu, diriku apa adanya. Aku nggak perlu kalian lagi.”

Cewek kelas 8E itu meletakkan mereka semua ke dalam ke ranjang lalu ia masukan keranjang itu ke dalam lemari pakaian bagian bawah. Setelah itu ia istirahat.

“ Aaah….  akhirnya aku bisa balik jadi diriku sendiri. Sekarang aku bisa lakuin apa yang kusuka dan nggak harus ngelakuin apa yang nggak kusuka. Nggak perlu lagi macak menor dan berlagak gaul. Jadi nggak sabar nunggu besok.”

Sekelebat pikiran melintas di otaknya.

“ Tapi kalo aku besok berubah, apa kata teman-teman  ya? Pasti mereka bakalan nanya macem-macem lalu nuduh yang enggak-enggak. Kalo mereka nanya terus aku harus jawab apa? Masak harus cerita kalo aku berbuah buat Johan? Malu-maluin. Apa jawab  yang lain? Tapi kalo jawab yang lain namanya bohong.”

Revina garuk-garuk kepala sampai rambutnya yang awalnya rapi jadi berantakan. Ia melompat ke ranjang di belakangnya. Ia berbalik, tengkurap, telentang, ke samping, guling-guling tapi nggak ketemu juga.

“  Aaaah…. aku harus bilang apa sih?”

Ia memandang ke keranjangnya.

“ Apa aku harus nerusin pake aksesoris itu? Tapi aku nggak suka. Sebenarnya aku pingin kayak gini aja. Tapi kalo kayak gini besok gimana? Aku harus gimana? Sebel! Sebel! Sebel!” cewek itu kian galau kena pikirannya sendiri.

“ Apa aku minta tolong Wika sama Silvia aja? Aku minta saran mereka buat besok baiknya gimana?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Cewek rambut panjang belah tengah itu mengamil hp lalu duduk bersila di tengah ranjang. Ia mencari nama Wika di daftar kontak. Ia bersiap menelpon

“ Sebentar! Sebentar! Kalo aku nelpon dan minta saran berarti aku harus cerita dong? Nanti mereka jadi tau juga dong? Terus kalo tau kan jadi malu-maluin. Nggak jadi deh! Aku harus selesaiin sendiri.”

Hampir sejam kemudian ia tahu ia salah mengambil pilihan. Ia tetap tak menemukan solusi. Ia melihat kalender, mencari acara-acara, alasan-alasan apa aja tapi tetep nggak ketemu. Kepalanya makin panas dan pusing.

“ Aaaah….. nggak bisa….!”

Akhirnya ia  ambil langkah lain. Ia keluar mencari ibunya. Ibunya tengah bekerja menjahit baju di ruang kerja. Letaknya di sebelah kiri ruang tamu. Revina keluar dari kamar ke depan melewati ruang keluarga baru masuk ruang kerja. Ibunya tengah menjahit blus.

“ Ma, bantuin aku dong?” pinta Revina sambil mendekat.

“ Apa, Vin? Apa kamu nggak tau mama lagi kerja?”

Mama Revina adalah wanita berusia 44 tahun. Namanya Bu Sinta. Beliau berwajah puti h rambit belah kiri berponi. Rambutnya hitam dijepit dengan gigi jepit rambut bergigi warna hitam. Beliau tinggi, kurus, memakai daster  putih bermotif bunga-bunga kecil lima kelopak. Revina mendekat duduk di samping mamanya.

“ Penting nih, ma.” Kata Revina merajuk.

“ Apa?”

“ Besok aku sekolah pake apa ya?”

“ Hoalah, vin, Vin. Kayak gitu aja tanya. Mbok ya pake seragam to?”

“ Maksudku pake seragam kayak tadi apa nggak?”

“ Terserah kamu. Itu punya kamu. Mau make apa nggak suka-suka kamu.”

“ Tapi …”

“  Sekarang Mama lagi sibuk, Vin. Apa kamu telpon teman-teman kamu aja. Wika sama Silvia itu. Mereka udah lama nggak ke sini.”

Wika dan Silvia adalah sahabat dekat Revina. mereka bertiga kemana-mana selalu bersama. mereka membentuk grup 3via dari nama: Silvia Ila Assamawati, Wika Nurviana dan Revina Kusuma putri. Mereka sama-sama mengandung Via di dalam namanya. Untuk Revina, ia tinggal menhapus huruf n-nya sehingga jadi Via.

“ Tapi aku malu. Tadi aku udah ngerepotin mereka, ma. Masak ngerepotin lagi?”

“ Kalo kamu malu biar mama yang telpon.” Mama mengambil HP.” Sama temannya sendiri kok malu?”

Mama menelpon Wika,” Halo?”

“ Halo. Ibu Revina?”

“ Ya. Ini mamanya Revina. Kamu bisa ke sini sebentar? Revina butuh bantuan kamu. Katanya penting banget.”

“ Soal apa, ya, bu?”

“ Soal anak muda. Kamu aja ya yang bantuin. Kalo sama temannya anak ini baru mau cerita.”

“ Baiklah, Bu. Saya akan ke sana.”

“ Kalau bisa ajak Silvia juga ya?

“ Ya, bu.”

“ Makasih. Assalamu alaikum.”

“ Wa alaikum salam.”

Mama menutup telepon.

“ Sekarang kamu bisa nunggu teman-teman kamu datang sambil nonton TV.

“ Oke deh, Ma.”

Revina melenggang menuju ruang  tamu di mana TV layar datar berdiri tegak di atas bufet. Revina mengambil remote dan menyalakan TV. Ia kemudian mengambil camilan baru duduk anteng.

Hampir setengah jam kemudian terdengar bel dan salam, “Assalamu alaikum.”

Revina menuju ruang tamu membukakan pintu.

Ia membalas,” Wa alaikum salam. Ayo masuk. Langsung ke ruang tengah aja!”

Revina masuk duluan ke ruang tengah. Wika dan Silvia mengikuti. Mereka duduk di sofa.

“ Gimana kabarmu, Na?” tanya  Wika.

“ Baik.”

“ Oh, ya ada apa? Tadi mamau bilang kok ada urusan anak muda?”

“ Gini lo. Aku besok pingin balik ke penampilanku yang dulu, tapi aku malu besok bakalan ditanya macem-macem sama anak-anak.”

“ Ha? Kamu mau berubah lagi?” Silvia terperanjat.

“ Kamu serius, Na? “ tanya Wika tak percaya.

“ Serius!”

“ Terus Johan gimana?” tanya Silvia.

“ Oh, iya. Tadi Johan gimana?” Wika ikutan nanya.

“ Sama Johan tadi akhirnya putus. Aku bener-benar nggak ada hubungan sama dia lagi. “

“ Yaah… gagal dong rencana kamu?” tanya Wika dan Silvia bersamaan.

“ Nggak papa deh. Lagian aku sekarang tau Johan mutusin aku demi aku.”

“ Demi kamu? Maksudnya?”

“ Dia udah ‘main’ sama cewek lain. Dia nggak pingin aku jadi korbannya juga. Makanya dia putusin aku.”

“ Oh…”

“ Aneh juga ada cowok kayak gitu.” Komentar Silvia.

“ Tapi jaga rahasia ini baik-baik, ya? Jangan bilang siap-siapa! Demi nama baik Johan.”

“ Alah.. banyak cowok kayak gitu, Na.” Ujar Silvia.

“  Biarpun gitu tetap lebih baik kita jaga rahasia orang. tambah lagi kita juga harus jaga nama baik orang.”

“ Ya udah. Kita bakalan jaga.” Sahut Wika.

“ makasih.”

“ Sama.” Sahut Silvia ikutan.

“ Nah, sekarang balik ke laptop.”

“ Topik!” Wika dan Revina mengoreksi.

“ Iya! Pokoknya itu! Kamu sekarang pingin ke penampilan kamu yang dulu?” tanya Silvia.

“ Iya. Tapi aku bingung kalo aku balik lagi apa kata mereka nanti.” Jawab Silvia.

“ Biarin aja! Nggak usah dilakuin gitu.” Sahut Silvia seketika.

“ Aku pinginnya juga gitu. Tapi anak-anak kelas kita suka usil dan tanya macem-macem kan? Apalagi ada wartawan kelas si Ferdi yang suka nanya macem-macem. Belum lagi grupnya Runa, Fifi, Helga, Maria dan wulan. Grup apa itu namanya?”

“ Aristokrat.” Jawab Wika.

Grup Aristokrat grupnya cewek-cowek orkay dan sok berkuasa di kelas. Mereka menjabat pengurus kelas buat nyuruh-nyuruh dan ngawasin anak-anak. Mereka suka nyari-nyari kesalahan orang. Citra, teman sebangku Revina dulu pernah kena waktu gantiin guru matematika di kelas.

“ Ya udah. Jawab aja seadanya.” Nasehat Wika.

“ Nggak bisa. Kalo aku bilang nanti aku jadi harus cerita kalo aku berbuah buat ngejar Johan. Mereka nanti mereka bakalan bilang kalo aku cewek murahan. Cowok ngejar cewek itu biasa, tapi kalo cewek ngejar cowok bakalan dibilang murahan. Terus nanti aku musti cerita kalo aku gagal. Runa pasti tambah gede kepala lalu ngeledekin aku abis-abisan.apalagi nanti aku jadi harus buka-buka rahasia Johan.”

“ Eh, yang rahasia Johan jangan diceritain. Bilang aja dia udah jalan sama cewek lain.” Kata Wika.

“ Jadi aku harus bilang apa?”

Wika ikutan mikir. Revina menunggu. Silvia melihat kedua temannya mikir cepat ambil kendali.

“ Kenapa sih kalian ribet amat?  Nggak usah jawab nggak apa-apa kan? No comment gitu. Bilang aja suka-suka aku. Hak-ahak aku. Baju-baju aku sendiri. Emang kalian mau apa? Mau marah? Emang kalian apaku? Ibuku? Nggak kan? Terus ngapin ngurus urusan orang. Urus aja urusan kalian sendiri!”

Revina dan Wika terpana mendengar omongan Silvia. Pedas tapi to the point. Kata-kata kayak gitu mutlak bisa lindungin mereka dan nggak usah mikir banyak-banyak.

” terus kalo mereka nanya lagi gimana?” Revina masih khawatir.

“ Udah dong! Jangan mikir yang banyak-banyak! Jangan takut yang nggak-enggak! Semua itu belum terjadi! Bisa jadi besok malah mereka nggak nanya.”

“ Tapi…” Revina mau membantah tapi dibantah oleh Wika dengan meletakkan jari di mulutnya.

“ Tenang aja! Besok kita bantuin. Kita besok bareng. Kita kumpul di gerbang lalu masuk bareng. Oke?”  kata Wika menenangkan.

“ Oke deh.”

“ Oke, Sil?” tanya Wika.

“ Oke.”

Besok paginya mereka berkumpul di depan gerbang. Wika memegang sepeda mini pink. Revina menaiki sepeda mini biru, sedangkan  Silvia mengendarai sepeda federal abu-abu. Mereka menuntun sepeda melewati gang di sisi barat SMP Aryapati. Mereka melewati dua gedung, gedung kelas 7 baru sampai di deretan gedung kelas 8. Di kedua sisi gedung terdapat area parkir. Mereka memarkir sepeda mereka di sana. Lalu trio grup itu masuk kelas.

Seperti yang diduga semua anak menoleh pada mereka bertiga, khususnya Revina. Cewek yang kemarin blink-blink dan genit kembali menjadi tenang. Mereka segera mengerumuni trio itu. Tak ketinggalan pula wartawan kelas, Ferdi.

“ Rev, kamu berubah lagi? Ada apa?” tanya Ferdi diikuti anak-anak lain.

“ No comment! No comment!” Wika dan Silvia membalas dan melindungi Revina seperti bodyguard mengawal idola dari fans-fans fanatik. Mereka tetap diam. Hanya Wika dan Silvia yang menghalangi. Pertanyaan-pertanyaan teman-teman dibiarkan tak terjawab.

Beberapa cowok yang kecewa  tak dijawab akhirnya bergosip,” Revina kesambet apa ya?”

“ Setan cinta lain kali?”

“ Mungkin dia tergila-gila sama mode pakaian kemarin?”

“ Mungkin dia ikutan camera candid?”

“ Mungkin dia ritual pesugihan?”

“ Mungkin dia ritual cinta ditolak dukun bertindak.”

“ Mungkin dia selama ini kena sihir lalu sekarang dia sembuh.”

“ Terus terang aku sendiri sulit percaya kalo kemarin-kemarin dia berubah. Akhirnya balik juga.”

Telinga Revina panas  medengar semua itu. Ia ingin membalas mereka semua tapi Wika menahannya. Revina memandang Wika. Wika memintanya duduk.

Grup Aristokrat datang juga diawali oleh Runa, Fifi baru yang lain.

“ Uler nggak jadi kupu-kupu balik jadi uler ya?” sindir Runa.

Revina menggigit bibir bawahnya.

Merasa tak ditanggapi Runa menoleh kepada Fifi, sang ratu kelas bee alias 8E. Fifi mulai berbicara.

“ Aku yakin Revina balik karena cintanya udah ditolak.” Ujar Fifi seresmi  pernyataan presiden.

“ Jleb!” telak.

Semua anak terkejut.

“ Apa maksudmu?” tanya Ferdi.

“ Kita semua tau kan kalo Revina pacaran sama Johan, anak kelas lain. Kau wartawan kelas, Fer. Harusnya kau tau.  Terus kemarin aku liat Johan jalan sama cewek lain. Artinya Revina diselingkuhi  ato diputusin. Kalo melihat Revina yang berubah, artinya Revina ngejar-ngejar Johan dengan jadi cewek centil. Soalnya cewek Johan yang aku liat kayaknya centil dan imut. Nah, Revina ini bukannya imut tapi sok imut.”

Revina tak tahan lagi akhirnya bersuara,” Diam kau! Tau apa kau urusan aku sama cowokku? Ini urusanku! Kau nggak usah ngurus-ngurus urusan orang! Urus aja dirimu sendiri!”

“ Aku ketua kelas. Aku harus merhatiin semua isi kelas biar semua berjalan dengan baik.” Ujar Fifi.

“ Tapi nggak perlu ngurus sampe segitu. Ini urusan pribadiku.”

“ Berarti benar kan?”

Runa mulai paham situasinya ikutan bicara,” jadi kau berubah buat ngejar  cowok juga? Ternyata kau cewek murahan, Na!”

Revina bersengit,” Apa kau bilang? Cewek murahan? Kau yang  yang cewek murahan! Kau ngejar-ngejar cowok nggak tau malu sampe ke kelas mantanmu lalu nangis di depan orang-orang!”

“ Apa kau bilang?” Runa mendorong Revina.

Revina mendorong Runa balik. Mereka saling dorong. Teman-teman mereka juga saling membela masing-masing. Suasana kian memanas. Tatapan mereka dan suara mereka makin meninggi. Mereka saling membalas, mencaci maki.

“ Berhenti!” suara cowok menghentikan mereka.

Kevin menengahi bersama 5 cowok lain. Mereka adalah 6 jenderal kelas 8E. Mereka membawa  gagang sapu. Cewek-cewek itu segera menyingkir. Para 6 jenderal, tim divisi keamanan kelas membawa grup Aristokrat pergi. Anak-anak bubar. Laika menenangkan situasi dan membawa Revina, Wika dan silvia duduk kembali.

“ Sudah! Sudah! Sekarang mereka udah pergi. Kalian sudah aman. Kalau ada apa-apa lagi panggil aku.” Kata Laika.

“ Makasih, Ka.” Kata ketiga trio itu.

“ Sama-sama.” Laika tersenyum lalu pergi.

“ Huff… akhirnya lewat juga. “ kata Wika.

“ Iya. Aku kira tadi bakalan berantem. Aku marah besar sama mereka tuh.” Tambah Revina.

” Kalo mereka macem-macem lagi, bakalan aku hajar mereka. mereka nggak tau aku udah sabuk biru.” ancam Silvia.

“ Udah. Yang penting udah lewat. Kita udah jalani sekarang. Besok kamu bisa sekolah seperti biasa.” Kata Wika.

“ Ya.”

24 gagasan untuk “cerpen sosial – apa kata mereka

  1. Wah…,jadi makin penasaran aja, tapi dari baca cerpen ini,kok saya jadi berpikir alasan Johan untuk tetap ga mau balik dengan Revina itu bohong ya…,kayaknya ada yang disembunyikan dari johan deh…, punya teman-teman yang mau tau banget itu buat kuping panas ya…?,saya aja gregetan bacanya.hahahaha.

    Like this

    • wah, bagus itu. nanti kita ungkap kenapa Johan nggak mau nerima revina balik.
      teman-teman yang mau tau banget itu melambangkan masyarakat yang suka usil dan ngrasani. misalnya kalo ada orang sholat gaya beda atau ngelakuin apa-apa yang nggak umum bisa dicerca. gitu.

      Like this

  2. Ping-balik: cerpen blog – hampir seminggu | WINTERWING

  3. Ping-balik: cerpen blog – rahasia wika | WINTERWING

  4. Ping-balik: cerpen sastra – ini pelecehan! | WINTERWING

  5. Ping-balik: cerpen – malam minggu pertama tanpa cinta | WINTERWING

  6. Ping-balik: cerpen cinta – taruhan cinta | WINTERWING

  7. Ping-balik: cerpen – melawan waktu | WINTERWING

  8. Ping-balik: cerpen – ketua yang tersandera | WINTERWING

  9. Ping-balik: cerpen islam – antara kerudung dan jilbab | WINTERWING

  10. Ping-balik: cerpen remaja winterwing – fashion youth part 5 | WINTERWING

menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s